Orang- Orang NU Sudah Terbiasa Ucapkan Sayyidina Muhammad SAW. Apasih Dasar nya?
Kata-kata “sayyidina” atau ”tuan” atau “yang mulia” seringkali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun di luar shalat. Hal itu termasuk amalan yang sangat utama, karena merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyatakan:
الأوْلَى ذِكْرُالسَّيِّادَةِ لِأنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَ بِ
“Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada Beliau).” (Hasyisyah al-Bajuri, juz I, hal 156).
Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:
عن أبي هريرةقا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafa’at.” (Shahih Muslim, 4223).
Hadits ini menyatakan bahwa nabi SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani:
“Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits 'saya adalah sayyidnya anak cucu adam di hari kiamat.' Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan ‘Adam di dunia dan akhirat”. (dalam kitabnya Manhaj as-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169)
Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.
Lalu bagaimana dengan “hadits” yang menjelaskan larangan mengucapkan sayyidina di dalam shalat?
لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ
“Janganlah kalian mengucapakan sayyidina kepadaku di dalam shalat”
Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayyidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah dhalalah, bid’ah yang tidak baik.
Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak singkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakan سَادَ- يَسِيْدُ , akan tetapi سَادَ -يَسُوْدُ , Sehingga tidak bisa dikatakan لَاتُسَيِّدُوْنِي
Oleh karena itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayyidina dalam shalat?
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca sayyidina ketika membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan. Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam shalat.
Rabu, 23 Juli 2008
Sabtu, 19 Juli 2008
Silahkah Download MP3 Sholawat

Situs Ini kami dedikasikan khalayak umum karena kecintaan saya pada baginda Rosulillah, maka dari itu kami persilahkan digunakan untuk kemaslahatan umum dan hasil dari situs ini mohon jangan diperjualbelikan.
Selain itu untuk memberikan kepuasan kepada pembaca dan pencinta sholawat, kami minta saran dan kritiknya demi kemajuan situs ini.
Dalam melayani banyaknya permintaan Mp3 Sholawat, Kami akan berusaha semaksimal mungkin, namun kami mohon maaf jikalau terlalu lama menunggu.
Dengan harapan ini, saya akan selalu update Mp3 Sholawat dari berbagai dari Pondok Pesantren Di Indonesia di Web Bloger saya ini.
Bagi yang ingin donatur sholawatnya tu dilink silahkan kirim mp3 sholawat di email
yahman_sinne@telkom.net
Label:
Pengumuman
Sabtu, 05 Juli 2008
Nariyahan Ponpes

Dalam rangka mendapatkan siswa baru ponpes sunan kalijogo, para santri diwajibkan untuk melakukann nariyahan sebayak 4444 ditambah bacaan khusus dari romo yai KH. Muchsin Nurhadi. selama 1 minggu penuh. ini gambar suasana nariyah-an
Label:
Artikel Umum
Jumat, 20 Juni 2008
Peringatan Houl
beberapa hari lalu tepat minggu tanggal 15 Juni 2008, diponpes sunan kalijogo surabaya mengadakan houl ummi kami, nyai nur hasanah (Istri KH. Muchsin Nurhadi(Pengasuh Ponpes Sunan kalijogo)) sangat meriah. namun dalam benak masyarakat saya khawatir jika sudah umum dilaksanakan namun belum tau dasarnya. akhirnya saya teringat artikel dr salah satu guru saya sebagai berikut :
Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud pada setiap tahun. Sesampainya di Uhud beliau memanjatkan doa sebagaimana dalam surat Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 24:
سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
Inilah yang menjadi sandaran hukum Islam bagi pelaksanaan peringatan haul atau acara tahunan untuk mendoakan dan mengenang para ulama, sesepuh dan orang tua kita.
Diriwayatkan pula bahwa para sahabat pun melakukan apa yang telah dilakukan Rasulullah. Berikut ini adalah kutipan lengkap hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi:
وَ رَوَى الْبَيْهَقِي فِي الشَّعْبِ، عَنِ الْوَاقِدِي، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِي كُلِّ حَوْلٍ. وَ إذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار
Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” –QS Ar-Ra’d: 24– Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
Lanjutan riwayat:
ثُمَّ أبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ. وَ كاَنَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَأتِيْهِ وَ تَدْعُوْ. وَ كاَنَ سَعْدُ ابْنِ أبِي وَقَّاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقْبَلُ عَلَى أصْحَابِهِ، فَيَقُوْلُ ألاَ تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمْ بِالسَّلَامِ
Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”
Demikian dalam kitab Syarah Al-Ihya juz 10 pada fasal tentang ziarah kubur. Lalu dalam kitab Najhul Balaghah dan Kitab Manaqib As-Sayyidis Syuhada Hamzah RA oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji dijelaskan bahwa hadits itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah untuk yang melakukan Ziarah Rajabiyah (ziarah tahunan setiap bulan Rajab) ke maka Sayidina Hamzah yang duitradisikan oleh keluarga Syeikh Junaid al-Masra’i karena ini pernah bermimpi dengan Hamzah yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut.
Para ulama memberikan arahan yang baik tentang tata cara dan etika peringatan haul. Dalam al-Fatawa al-Kubra Ibnu Hajar mewanti-wanti, jangan sampai menyebut-nyebut kebaikan orang yang sudah wafat disertai dengan tangisan. Ibnu Abd Salam menambahkan, di antara cara berbela sungkawa yang diharamkan adalah memukul-mukul dada atau wajah, karena itu berarti berontak terhadap qadha yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Saat mengadakan peringatan haul dianjurkan untuk membacakan manaqib (biografi yang baik) dari orang yang wafat, untuk diteladani kebaikannya dan untuk berbaik sangka kepadanya. Ibnu Abd Salam mengatakan, pembacaan manaqib tersebut adalah bagian dari perbuatan taat kepada Allah SWT karena bisa menimbulkan kebaikan. Karena itu banyak para sahabat dan ulama yang melakukannya di sepanjang masa tanpa mengingkarinya.
Demikianlah. Dalam muktamar kedua Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah atau jam’iyyah tarekat-tarekat di lingkungan NU di Pekalongan Jawa Tengah pada 8 Jumadil Ula 1379 H bertepatan dengan 9 November 1959 M para kiai menganjurkan, sedikitnya ada tiga kebaikan yang bisa dilakukan pada arara peringatan haul:
1. Mengadakan ziarah kubur dan tahlil
2. Menyediakan makanan atau hidangan dengan niat sedekah dari almarhum.
3. Membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dan memberikan nasihat agama, antara lain dengan menceritakan kisah hidup dan kebaikan almarhum agar bisa diteladani.
KH Aziz Mashuri
Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang
Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud pada setiap tahun. Sesampainya di Uhud beliau memanjatkan doa sebagaimana dalam surat Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 24:
سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
Inilah yang menjadi sandaran hukum Islam bagi pelaksanaan peringatan haul atau acara tahunan untuk mendoakan dan mengenang para ulama, sesepuh dan orang tua kita.
Diriwayatkan pula bahwa para sahabat pun melakukan apa yang telah dilakukan Rasulullah. Berikut ini adalah kutipan lengkap hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi:
وَ رَوَى الْبَيْهَقِي فِي الشَّعْبِ، عَنِ الْوَاقِدِي، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِي كُلِّ حَوْلٍ. وَ إذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار
Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” –QS Ar-Ra’d: 24– Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
Lanjutan riwayat:
ثُمَّ أبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ. وَ كاَنَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَأتِيْهِ وَ تَدْعُوْ. وَ كاَنَ سَعْدُ ابْنِ أبِي وَقَّاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقْبَلُ عَلَى أصْحَابِهِ، فَيَقُوْلُ ألاَ تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمْ بِالسَّلَامِ
Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”
Demikian dalam kitab Syarah Al-Ihya juz 10 pada fasal tentang ziarah kubur. Lalu dalam kitab Najhul Balaghah dan Kitab Manaqib As-Sayyidis Syuhada Hamzah RA oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji dijelaskan bahwa hadits itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah untuk yang melakukan Ziarah Rajabiyah (ziarah tahunan setiap bulan Rajab) ke maka Sayidina Hamzah yang duitradisikan oleh keluarga Syeikh Junaid al-Masra’i karena ini pernah bermimpi dengan Hamzah yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut.
Para ulama memberikan arahan yang baik tentang tata cara dan etika peringatan haul. Dalam al-Fatawa al-Kubra Ibnu Hajar mewanti-wanti, jangan sampai menyebut-nyebut kebaikan orang yang sudah wafat disertai dengan tangisan. Ibnu Abd Salam menambahkan, di antara cara berbela sungkawa yang diharamkan adalah memukul-mukul dada atau wajah, karena itu berarti berontak terhadap qadha yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Saat mengadakan peringatan haul dianjurkan untuk membacakan manaqib (biografi yang baik) dari orang yang wafat, untuk diteladani kebaikannya dan untuk berbaik sangka kepadanya. Ibnu Abd Salam mengatakan, pembacaan manaqib tersebut adalah bagian dari perbuatan taat kepada Allah SWT karena bisa menimbulkan kebaikan. Karena itu banyak para sahabat dan ulama yang melakukannya di sepanjang masa tanpa mengingkarinya.
Demikianlah. Dalam muktamar kedua Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah atau jam’iyyah tarekat-tarekat di lingkungan NU di Pekalongan Jawa Tengah pada 8 Jumadil Ula 1379 H bertepatan dengan 9 November 1959 M para kiai menganjurkan, sedikitnya ada tiga kebaikan yang bisa dilakukan pada arara peringatan haul:
1. Mengadakan ziarah kubur dan tahlil
2. Menyediakan makanan atau hidangan dengan niat sedekah dari almarhum.
3. Membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dan memberikan nasihat agama, antara lain dengan menceritakan kisah hidup dan kebaikan almarhum agar bisa diteladani.
KH Aziz Mashuri
Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang
Label:
Artikel Umum
Minggu, 27 April 2008
Musibah, Ujian? atau Azab Allah?
Sekarang BANYAK SEKALI musibah, ketika musibah-musibah itu, plus musibah lumpur panas(sidoarjo), secara beruntun terjadi di tanah air, masih juga banyak orang yang jauh dari tempat musibah bereaksi sama. Ikut prihatin sebentar, lalu diam-diam atau terang-terangan bersyukur bahwa bukan mereka yang terkena.
Karena beruntun, setidaknya dalam dua tahun belakangan, banyak pula yang terusik dan bertanya-tanya: Ini ada apa? Ini cobaankah, peringatan, atau siksa dari Tuhan?
Memang, ada beberapa ayat suci yang jelas-jelas menyatakan bahwa musibah dan kerusakan adalah akibat ulah manusia (misalnya, Q.4: 62; 28: 47; 30: 36, 41; 42: 48). Namun, dalam menjabarkan ayat-ayat itu, berbeda-beda hujah orang. Ada yang dengan nada keminter menyalahkan pihak-pihak selain dirinya. "Alam itu memiliki karakter yang tetap," katanya; "Gunung, laut, angin, dsb sama saja tidak pernah berubah. Jadi, bisa dipelajari. Seharusnya para ilmuwan dapat memberikan masukan informasi kepada pemerintah dan masyarakat. Semestinya pemerintah sudah mengantisipasi gejala-gejala alam itu. Apa kerja Badan Meteorologi dan Geofisika itu?"
Dari mereka yang suka menyalahkan itu, ada yang lucu; menyalahkan presiden yang dianggap membawa sial dan seharusnya diruwat.
Ada pula yang agak memper, menyalahkan orang-orang yang suka merusak alam. Menurut mereka, alam marah kepada manusia yang terus-menerus melukainya. Bukan hanya manusia yang bisa kecewa, marah, demo, dan ngamuk. Alam pun bisa.
Ada yang lebih kehambaan dengan mengakui bahwa semua ini akibat dosa masal terhadap Tuhan pencipta manusia dan alam. Dosa kita semua. Jadi, tidak relevan dan sia-sia apabila hanya saling tunjuk, menganggap pihak lain saja yang berdosa, seolah-olah masing-masing merupakan wakil Tuhan.
Semua aturan Tuhan dilanggar beramai-ramai. Diangkat menjadi khalifah di kehidupan di dunia, tidak merawat dan mengelolanya secara baik, malah merusaknya. Mereka yang merasa benar tidak mau membenarkan, malah hanya menyalah-nyalahkan. Mereka yang berkesempatan berkorupsi tidak ditutup kesempatannya berkorupsi, malah dipupuk dan diberi peluang.
Hukum yang seharusnya menata malah ditata. Penegak hukum yang melencengkan hukum tidak dibantu menegakkan, malah didorong untuk terus melencengkannya. Kenakalan remaja dan kenakalan orang tua merajalela. Amuk di mana-mana.
"Karena dosa masal, untuk menghentikan hajaran Tuhan ini, tiada lain kita semua mesti melakukan tobat masal," kata sohibul pendapat itu.
Saya sependapat dengan pikiran tersebut karena saya sendiri juga melihat kenyataan perikehidupan kita yang seperti itu. Saya setuju dan mendukung anjuran tobat masal, tapi tidak dengan pengertian yang sederhana. "Hanya" ramai-ramai istighotsah secara seremonial, nangis-nangis minta ampun kepada Tuhan, lalu sudah.
Tobat yang saya dukung adalah tobat yang sesungguhnya. Masing-masing mengidentifikasi kesalahan sendiri dan menyesalinya, lalu bertekad tidak mengulangi. Mereka yang merasa pernah merampas hak orang lain segera mengembalikan atau meminta ikhlas dari pihak yang terampas. Misalnya, pejabat yang pernah mengorupsi harta rakyat, segeralah mengembalikan. Atau, jika telanjur habis termakan, mengadakan konferensi pers untuk memohon keikhlasan dari rakyat.
Mereka yang pernah atau sering nyogok atau menerima sogok, segera berhenti dan berjanji tidak akan mengulangi. Mereka yang karena memiliki kelebihan, baik berupa kekayaan, kepintaran, maupun kekuasaan, hendaklah segera menyadari bahwa itu semua adalah anugerah Tuhan yang seharusnya disyukuri, bukannya dijadikan alasan untuk angkuh serta merendahkan orang lain.
Mereka yang suka memutlakkan pendapat dan kebenaran sendiri hendaklah segera menyadari bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah dan mulai belajar menghargai pendapat orang lain. Demikian seterusnya. Kemudian, baru dengan tulus dan khusyuk memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.
Kesalahan-kesalahan yang telanjur dilakukan karena kebodohan serta kecerobohan harus diakui dan diusahakan memperbaiki dengan belajar atau menghindarinya sama sekali. Misalnya, karena pengetahuan kita mengenai bencana alam dan penanganannya masih minim, kita harus mengakui dan belajar.
Misalnya, karena nasib baik atau KKN, seseorang diangkat dan diserahi tugas yang tidak begitu dikuasainya, lalu timbul kesalahan, dia bisa memperbaiki dengan belajar. Tapi, bila tugas tersebut sama sekali di luar kemampuannya, segera saja mundur. Sebab, kesalahannya akan beranak-pinak.
Karena itu semua adalah pendekatan kehambaan, kuncinya adalah kerendahhatian. Tanpa sikap rendah hati, tobat akan sia-sia belaka.
Waba'du, meskipun wadag kita dari lumpur, tidak seharusnya kita bersikap seperti lumpur Porong yang seenaknya sendiri, merusak ke sana kemari, susah diatur, tidak jelas maunya. Sebab, dalam wadag kita, Allah meletakkan cahaya penerang: akal dan hati nurani.
Karena beruntun, setidaknya dalam dua tahun belakangan, banyak pula yang terusik dan bertanya-tanya: Ini ada apa? Ini cobaankah, peringatan, atau siksa dari Tuhan?
Memang, ada beberapa ayat suci yang jelas-jelas menyatakan bahwa musibah dan kerusakan adalah akibat ulah manusia (misalnya, Q.4: 62; 28: 47; 30: 36, 41; 42: 48). Namun, dalam menjabarkan ayat-ayat itu, berbeda-beda hujah orang. Ada yang dengan nada keminter menyalahkan pihak-pihak selain dirinya. "Alam itu memiliki karakter yang tetap," katanya; "Gunung, laut, angin, dsb sama saja tidak pernah berubah. Jadi, bisa dipelajari. Seharusnya para ilmuwan dapat memberikan masukan informasi kepada pemerintah dan masyarakat. Semestinya pemerintah sudah mengantisipasi gejala-gejala alam itu. Apa kerja Badan Meteorologi dan Geofisika itu?"
Dari mereka yang suka menyalahkan itu, ada yang lucu; menyalahkan presiden yang dianggap membawa sial dan seharusnya diruwat.
Ada pula yang agak memper, menyalahkan orang-orang yang suka merusak alam. Menurut mereka, alam marah kepada manusia yang terus-menerus melukainya. Bukan hanya manusia yang bisa kecewa, marah, demo, dan ngamuk. Alam pun bisa.
Ada yang lebih kehambaan dengan mengakui bahwa semua ini akibat dosa masal terhadap Tuhan pencipta manusia dan alam. Dosa kita semua. Jadi, tidak relevan dan sia-sia apabila hanya saling tunjuk, menganggap pihak lain saja yang berdosa, seolah-olah masing-masing merupakan wakil Tuhan.
Semua aturan Tuhan dilanggar beramai-ramai. Diangkat menjadi khalifah di kehidupan di dunia, tidak merawat dan mengelolanya secara baik, malah merusaknya. Mereka yang merasa benar tidak mau membenarkan, malah hanya menyalah-nyalahkan. Mereka yang berkesempatan berkorupsi tidak ditutup kesempatannya berkorupsi, malah dipupuk dan diberi peluang.
Hukum yang seharusnya menata malah ditata. Penegak hukum yang melencengkan hukum tidak dibantu menegakkan, malah didorong untuk terus melencengkannya. Kenakalan remaja dan kenakalan orang tua merajalela. Amuk di mana-mana.
"Karena dosa masal, untuk menghentikan hajaran Tuhan ini, tiada lain kita semua mesti melakukan tobat masal," kata sohibul pendapat itu.
Saya sependapat dengan pikiran tersebut karena saya sendiri juga melihat kenyataan perikehidupan kita yang seperti itu. Saya setuju dan mendukung anjuran tobat masal, tapi tidak dengan pengertian yang sederhana. "Hanya" ramai-ramai istighotsah secara seremonial, nangis-nangis minta ampun kepada Tuhan, lalu sudah.
Tobat yang saya dukung adalah tobat yang sesungguhnya. Masing-masing mengidentifikasi kesalahan sendiri dan menyesalinya, lalu bertekad tidak mengulangi. Mereka yang merasa pernah merampas hak orang lain segera mengembalikan atau meminta ikhlas dari pihak yang terampas. Misalnya, pejabat yang pernah mengorupsi harta rakyat, segeralah mengembalikan. Atau, jika telanjur habis termakan, mengadakan konferensi pers untuk memohon keikhlasan dari rakyat.
Mereka yang pernah atau sering nyogok atau menerima sogok, segera berhenti dan berjanji tidak akan mengulangi. Mereka yang karena memiliki kelebihan, baik berupa kekayaan, kepintaran, maupun kekuasaan, hendaklah segera menyadari bahwa itu semua adalah anugerah Tuhan yang seharusnya disyukuri, bukannya dijadikan alasan untuk angkuh serta merendahkan orang lain.
Mereka yang suka memutlakkan pendapat dan kebenaran sendiri hendaklah segera menyadari bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah dan mulai belajar menghargai pendapat orang lain. Demikian seterusnya. Kemudian, baru dengan tulus dan khusyuk memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.
Kesalahan-kesalahan yang telanjur dilakukan karena kebodohan serta kecerobohan harus diakui dan diusahakan memperbaiki dengan belajar atau menghindarinya sama sekali. Misalnya, karena pengetahuan kita mengenai bencana alam dan penanganannya masih minim, kita harus mengakui dan belajar.
Misalnya, karena nasib baik atau KKN, seseorang diangkat dan diserahi tugas yang tidak begitu dikuasainya, lalu timbul kesalahan, dia bisa memperbaiki dengan belajar. Tapi, bila tugas tersebut sama sekali di luar kemampuannya, segera saja mundur. Sebab, kesalahannya akan beranak-pinak.
Karena itu semua adalah pendekatan kehambaan, kuncinya adalah kerendahhatian. Tanpa sikap rendah hati, tobat akan sia-sia belaka.
Waba'du, meskipun wadag kita dari lumpur, tidak seharusnya kita bersikap seperti lumpur Porong yang seenaknya sendiri, merusak ke sana kemari, susah diatur, tidak jelas maunya. Sebab, dalam wadag kita, Allah meletakkan cahaya penerang: akal dan hati nurani.
Label:
Hikmah Islam
Jumat, 11 April 2008
Petuah Jawa KH. Musthofa Bisri
Kabeh puji syukur kagungane Allah
shalat salam katur maring Rasulullah
Segala puji bagi Allah shalawat dan salam terhaturkan kepada Rasulullah
Kita umat Islam wajib dha berjuang
nindaaken printah Allah maha menang
Kita umat Islam wajib berjuang mengerjakan perintah Allah yang Maha Menang
Lanang wadon aja ana kang katinggal
nuprih ridla Allah ingkang maha tunggal
Laki-laki dan perempuan jangan ada yang tertinggal memburu ridha Allah yang Maha Tunggal
Aja dumeh wis padha dha duwe partai
banjur padha ora gelem cawe-cawe
Jangan mentang-mentang sudah memiliki partai (kelompok sendiri) kemudian tidak mau berpartisipasi
Madurasah pengajian pondok langgar
ayo diperjuangake kanti sabar
Madrasah-madrasah, pengajian di pesantren atau di musholla-musholla mari diperjuangkan dengan sabar
Pengajian khusus pengajian umum
mlaku bareng keben agamane harum
Pengajian khusus dan untuk umum berjalan bersama untuk mengharumkan agama
Wong berjuang cukup makmum ring ulama
ahli sunnah wal jama’ah ingkang lunak
Orang yang berjuang, cukuplah mengikuti para ulama ahli sunnah wal jamaah yang moderat
Jamaah ing langgar rameake
lanang wadon cilik gedhe kerahake
Ramaikan shalat berjamaah di Mushola, lelaki dan perempuan, kecil maupun besar, kerahkan semua!
Shalat berjamaah iku ganjarane
tikel pitu likur –aduh cah senenge
Shalat berjamaah itu pahalanya berlipat 27, aduh senangnya
Bocah-bocah kudu mlebu madurasah
keben besok gedhe ora padha susah
Anak-anak harus sekolah, agar besar nanti tidak (hidup) susah
Syukur terus munggah menyang tsanawiyah
sakbanjure nganti tekan ing aliyah
Syukur bila bisa sampai tingkat smp kemudian sampai sma
Syukur lamun wong tuwo kersa mondokne
madurasah ngiras ngaji bandungane
Syukur bila orang tua mau memondokkan anaknya, sekolah dan mengaji
Madurasah tanpa mondok iya bisa
nanging ora kaya mondok yen dirosho
Bolehlah sekolah tanpa mondok, tetapi kenikmatannya tidak selezat mondok bila dirasa
Pondok iku langsung ngandung macem-macem
pendidikan hingga bocah ora ngalem
Pondok itu memiliki berbagai macam pola pendidikan untuk menjadikan anak mandiri
Nomer siji belajar pisah ring ibune
ring bapakne kanca kampong familine
Nomor satu, belajar berpisah dengan ibu, bapak, teman kampong dan sanak famili
Nomer loro ngumbah dhewe ngliwet dhewe
sugih melarat asor pangkat padha bae
Nomor dua, mencuci sendiri dan memasak sendiri, kaya, miskin derajatnya sama saja
Dahar sak anane gak kaya ing ndalem
sega jangan pecel terong sampun marem
Makan seadanya tidak seperti dirumah, nasi pecel terong sudah memuaskan
Ora kenal endog daging iwak banding
susu limun ager-ager lan es podeng
Tidak mengenal telur, daging, susu, limun, agar-agar atau es puding
Terang iku pendidikan kang prayoga
pemburine manfaati keluarga
Jelas hal itu merupakan pendidikan yang baik, yang memberikan manfaat kepada keluarga
Nomer telu amaliyah islamiyah
lung tinulung marang kanca ramah tamah
Nomor tiga, perilaku islamy, saling menolong kepada teman dan ramah tamah
Luwih-luwih bab jamaah musyawarah
tansah dipun gatosaken tanpa wegah
Lebih-lebih mengenai jamaah dan musyawarah selalu diperhatikan tanpa bosan
Santri pondok dateng yai demen rikuh
marang padha padha ramah ora angkuh
Santri pondok, kepada guru/Kyai tunduk patuh, kepada sesama ramah tidak angkuh
Sapa wonge pengin duwe anak pinter
alim aqil syarat telu kudu bener
Barangsiapa yang ingin memiliki anak yang pandai, alim dan berakal, maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi
Bener ditetepi aja nguciwani
insyaAllah gusti Allah ngelaksanani
Benar-benar ditepati jangan sampai ingkar, insya Allah, Allah akan mengabulkan
Nomer siji putra mempeng sinaune
wa man jadda wajada dawuh nabine
Nomor satu, anak harus giat belajar, barang siapa sungguh-sungguh akan memperoleh tujuannya, begitu sabda Nabi
Kaping pindo bapak mempeng but gawene
golek tambah rejeki kanggo sangune
Yang Kedua, bapak giat bekerja untuk menambah rizki bagi bekal anak
Mbok menawa putra pengin pinter tenan
pindah Mekah Mesir Irak aja heran
Siapa tahu, anaknya betul-betul ingin pandai, maka jangan heran bila anak pindah ke Mekkah, Mesir atau Irak
Kabeh mahu butuh tabah lan sangune
sapa maneh sing nanggung yen gak bapakne
Semua itu membutuhkan ketabahan dan biaya, siapa lagi yang akan menanggung bila bukan bapaknya
Para bapak ja kesusu golek mantu
durung-durung putra dikon gawe putu
Para bapak jangan tergesa mencari mantu, belum apa-apa anaknya disuruh memberikan cucu
_Bapak aja lemah ngeluh, kaya apa?
wong anakku wahe arep dadi apa?_
Bapak jangan lemah dan mengeluh seperti apa? Ini hanya anakku, mau jadi apa?
Nomer telu ibune kudu kang jungkung
nyuwun maring Allah ingkang maha agung
Nomor Tiga, Ibu harus selalu beribadah dan berdoa, memohon kepada Allah Yang Maha Agung
Muga-muga putrane difutuh inggal
pinaringan ilmu nafi’ lan berakal
Moga-moga putranya dibuka hatinya, cepat mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berakal
Manfaati ring agami lan negari
bangsa lan famili kabeh kakung putri
Memberikan manfaat bagi agama, negara, bangsa dan familinya laki-laki atau perempuan
Syukur ibu gelem mempeng shalat bengi
gusti Allah inggal kersaha maringi
Syukur bila Ibu mau rutin sholat malam, agar Allah segera mengabulkan
Aturane, yen jam sanga bengi turu
jam loro wungu nuli inggal wudlu
Caranya, kalau sudah jam sembilan malam segera tidur dan jam dua malam segera bangun dan mengambil air wudlu
Nuli shalat rong rakaat niyatipun
ushalli sunnatal hajat, hajatipun
Kemudian shalat malam dua rekaat, dengan niat ‘saya niat menjalankan shalat hajat’ dengan menyebut hajatnya;
Mugi-mugi anak kula inggal hasil
maksudipun ingkang sae kanti gampil
Moga-moga anak saya segera tercapai cita-citanya yang baik dengan mudah
Bapakipun mugi angsal tambah untung
ingkang kathah ingkang halal ingkang agung
Bapaknya, moga-moga mendapat keuntungan yang banyak, halal dan agung
Rakaat ula, fatihah-ayat kursi
maca khusyu’ aja eling lombok terasi
Rokaat pertama, membaca fatihah dan ayat kursi dengan khusyu’ jangan sampai terigat sambal terasi
Rakaat tsaniyah, fatihah banjure
macaha amanar rasuul sak akhire
Rokaat kedua, membaca fatihah, kemudian membaca ayat ‘aamanarrasuul.’ Sampai akhir
Rampung salam nuli maca –astaghfirullah
kaping pitung puluh taubat maring Allah
Setelah selesai sholat kemudian membaca, ‘Astaghfirullah’ 70 kali niat bertaubat kepada Allah
Nuli maca kaping satus shalawate
nuli doa cara jawa –pa hajate
Kemudian membaca Sholawat 100 kali, selanjutnya membaca doa dengan bahasa ibu, apa saja hajatnya
Apa nyuwun anak shaleh alim pinter
apa nyuwun mantu bagus gagah seger
Apakah memohon agar anaknya menjadi shalih, alim dan pandai, atau memohon menantu yang baik, gagah dan segar berseri
Apa nyuwun bisa gawe omah pantes
apa nyuwun sugih banda ingkang leres
Apakah memohon bisa membangun rumah yang pantas atau memohon kekayaan dari sumber yang benar
Apa nyuwun bisa haji ing baitullah
apa bahe nyuwuna ring gusti Allah
Apakah memohon agar bisa segera naik haji, apa saja mintalah kepada Allah
Akhiripun, ja lali nyuwun syafaat
kanjeng nabi Muhammad kang dadi rahmat
Akhirnya, jangan lupa memohon syafaat/pertolongan Nabi Muhammad yang menjadi Rahmat
Ngucapa, duh kanjeng nabi kula nyuwun
syafaat paduka nabi- pokokipun
Ucapkan; duh Nabi saya hanya memohon pertolongan Nabi!
Sageda kula wilujeng dunya khirat
keterima amal kula mboten cacat
Moga-moga bisa selamat dunia akhirat, diterima amalnya tanpa cacat
Kula miwah anak putu nyuwun rahmat
cekap sandang pangan selamet dunya khirat
Saya dan anak cucu memohon rahmat dicukupkan sandang pangan, selamat dunia dan akhirat
فَالحَمْدُ للهِ الَّذِى كَفَّ كَفَى
صَلاَتُهُ وَسَلاَمُهُ لِلْمُصْطَفَى
وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الوَفَا
الله نريمَا عَمَلِى بِشْرِى مُصْطَفَى
shalat salam katur maring Rasulullah
Segala puji bagi Allah shalawat dan salam terhaturkan kepada Rasulullah
Kita umat Islam wajib dha berjuang
nindaaken printah Allah maha menang
Kita umat Islam wajib berjuang mengerjakan perintah Allah yang Maha Menang
Lanang wadon aja ana kang katinggal
nuprih ridla Allah ingkang maha tunggal
Laki-laki dan perempuan jangan ada yang tertinggal memburu ridha Allah yang Maha Tunggal
Aja dumeh wis padha dha duwe partai
banjur padha ora gelem cawe-cawe
Jangan mentang-mentang sudah memiliki partai (kelompok sendiri) kemudian tidak mau berpartisipasi
Madurasah pengajian pondok langgar
ayo diperjuangake kanti sabar
Madrasah-madrasah, pengajian di pesantren atau di musholla-musholla mari diperjuangkan dengan sabar
Pengajian khusus pengajian umum
mlaku bareng keben agamane harum
Pengajian khusus dan untuk umum berjalan bersama untuk mengharumkan agama
Wong berjuang cukup makmum ring ulama
ahli sunnah wal jama’ah ingkang lunak
Orang yang berjuang, cukuplah mengikuti para ulama ahli sunnah wal jamaah yang moderat
Jamaah ing langgar rameake
lanang wadon cilik gedhe kerahake
Ramaikan shalat berjamaah di Mushola, lelaki dan perempuan, kecil maupun besar, kerahkan semua!
Shalat berjamaah iku ganjarane
tikel pitu likur –aduh cah senenge
Shalat berjamaah itu pahalanya berlipat 27, aduh senangnya
Bocah-bocah kudu mlebu madurasah
keben besok gedhe ora padha susah
Anak-anak harus sekolah, agar besar nanti tidak (hidup) susah
Syukur terus munggah menyang tsanawiyah
sakbanjure nganti tekan ing aliyah
Syukur bila bisa sampai tingkat smp kemudian sampai sma
Syukur lamun wong tuwo kersa mondokne
madurasah ngiras ngaji bandungane
Syukur bila orang tua mau memondokkan anaknya, sekolah dan mengaji
Madurasah tanpa mondok iya bisa
nanging ora kaya mondok yen dirosho
Bolehlah sekolah tanpa mondok, tetapi kenikmatannya tidak selezat mondok bila dirasa
Pondok iku langsung ngandung macem-macem
pendidikan hingga bocah ora ngalem
Pondok itu memiliki berbagai macam pola pendidikan untuk menjadikan anak mandiri
Nomer siji belajar pisah ring ibune
ring bapakne kanca kampong familine
Nomor satu, belajar berpisah dengan ibu, bapak, teman kampong dan sanak famili
Nomer loro ngumbah dhewe ngliwet dhewe
sugih melarat asor pangkat padha bae
Nomor dua, mencuci sendiri dan memasak sendiri, kaya, miskin derajatnya sama saja
Dahar sak anane gak kaya ing ndalem
sega jangan pecel terong sampun marem
Makan seadanya tidak seperti dirumah, nasi pecel terong sudah memuaskan
Ora kenal endog daging iwak banding
susu limun ager-ager lan es podeng
Tidak mengenal telur, daging, susu, limun, agar-agar atau es puding
Terang iku pendidikan kang prayoga
pemburine manfaati keluarga
Jelas hal itu merupakan pendidikan yang baik, yang memberikan manfaat kepada keluarga
Nomer telu amaliyah islamiyah
lung tinulung marang kanca ramah tamah
Nomor tiga, perilaku islamy, saling menolong kepada teman dan ramah tamah
Luwih-luwih bab jamaah musyawarah
tansah dipun gatosaken tanpa wegah
Lebih-lebih mengenai jamaah dan musyawarah selalu diperhatikan tanpa bosan
Santri pondok dateng yai demen rikuh
marang padha padha ramah ora angkuh
Santri pondok, kepada guru/Kyai tunduk patuh, kepada sesama ramah tidak angkuh
Sapa wonge pengin duwe anak pinter
alim aqil syarat telu kudu bener
Barangsiapa yang ingin memiliki anak yang pandai, alim dan berakal, maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi
Bener ditetepi aja nguciwani
insyaAllah gusti Allah ngelaksanani
Benar-benar ditepati jangan sampai ingkar, insya Allah, Allah akan mengabulkan
Nomer siji putra mempeng sinaune
wa man jadda wajada dawuh nabine
Nomor satu, anak harus giat belajar, barang siapa sungguh-sungguh akan memperoleh tujuannya, begitu sabda Nabi
Kaping pindo bapak mempeng but gawene
golek tambah rejeki kanggo sangune
Yang Kedua, bapak giat bekerja untuk menambah rizki bagi bekal anak
Mbok menawa putra pengin pinter tenan
pindah Mekah Mesir Irak aja heran
Siapa tahu, anaknya betul-betul ingin pandai, maka jangan heran bila anak pindah ke Mekkah, Mesir atau Irak
Kabeh mahu butuh tabah lan sangune
sapa maneh sing nanggung yen gak bapakne
Semua itu membutuhkan ketabahan dan biaya, siapa lagi yang akan menanggung bila bukan bapaknya
Para bapak ja kesusu golek mantu
durung-durung putra dikon gawe putu
Para bapak jangan tergesa mencari mantu, belum apa-apa anaknya disuruh memberikan cucu
_Bapak aja lemah ngeluh, kaya apa?
wong anakku wahe arep dadi apa?_
Bapak jangan lemah dan mengeluh seperti apa? Ini hanya anakku, mau jadi apa?
Nomer telu ibune kudu kang jungkung
nyuwun maring Allah ingkang maha agung
Nomor Tiga, Ibu harus selalu beribadah dan berdoa, memohon kepada Allah Yang Maha Agung
Muga-muga putrane difutuh inggal
pinaringan ilmu nafi’ lan berakal
Moga-moga putranya dibuka hatinya, cepat mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berakal
Manfaati ring agami lan negari
bangsa lan famili kabeh kakung putri
Memberikan manfaat bagi agama, negara, bangsa dan familinya laki-laki atau perempuan
Syukur ibu gelem mempeng shalat bengi
gusti Allah inggal kersaha maringi
Syukur bila Ibu mau rutin sholat malam, agar Allah segera mengabulkan
Aturane, yen jam sanga bengi turu
jam loro wungu nuli inggal wudlu
Caranya, kalau sudah jam sembilan malam segera tidur dan jam dua malam segera bangun dan mengambil air wudlu
Nuli shalat rong rakaat niyatipun
ushalli sunnatal hajat, hajatipun
Kemudian shalat malam dua rekaat, dengan niat ‘saya niat menjalankan shalat hajat’ dengan menyebut hajatnya;
Mugi-mugi anak kula inggal hasil
maksudipun ingkang sae kanti gampil
Moga-moga anak saya segera tercapai cita-citanya yang baik dengan mudah
Bapakipun mugi angsal tambah untung
ingkang kathah ingkang halal ingkang agung
Bapaknya, moga-moga mendapat keuntungan yang banyak, halal dan agung
Rakaat ula, fatihah-ayat kursi
maca khusyu’ aja eling lombok terasi
Rokaat pertama, membaca fatihah dan ayat kursi dengan khusyu’ jangan sampai terigat sambal terasi
Rakaat tsaniyah, fatihah banjure
macaha amanar rasuul sak akhire
Rokaat kedua, membaca fatihah, kemudian membaca ayat ‘aamanarrasuul.’ Sampai akhir
Rampung salam nuli maca –astaghfirullah
kaping pitung puluh taubat maring Allah
Setelah selesai sholat kemudian membaca, ‘Astaghfirullah’ 70 kali niat bertaubat kepada Allah
Nuli maca kaping satus shalawate
nuli doa cara jawa –pa hajate
Kemudian membaca Sholawat 100 kali, selanjutnya membaca doa dengan bahasa ibu, apa saja hajatnya
Apa nyuwun anak shaleh alim pinter
apa nyuwun mantu bagus gagah seger
Apakah memohon agar anaknya menjadi shalih, alim dan pandai, atau memohon menantu yang baik, gagah dan segar berseri
Apa nyuwun bisa gawe omah pantes
apa nyuwun sugih banda ingkang leres
Apakah memohon bisa membangun rumah yang pantas atau memohon kekayaan dari sumber yang benar
Apa nyuwun bisa haji ing baitullah
apa bahe nyuwuna ring gusti Allah
Apakah memohon agar bisa segera naik haji, apa saja mintalah kepada Allah
Akhiripun, ja lali nyuwun syafaat
kanjeng nabi Muhammad kang dadi rahmat
Akhirnya, jangan lupa memohon syafaat/pertolongan Nabi Muhammad yang menjadi Rahmat
Ngucapa, duh kanjeng nabi kula nyuwun
syafaat paduka nabi- pokokipun
Ucapkan; duh Nabi saya hanya memohon pertolongan Nabi!
Sageda kula wilujeng dunya khirat
keterima amal kula mboten cacat
Moga-moga bisa selamat dunia akhirat, diterima amalnya tanpa cacat
Kula miwah anak putu nyuwun rahmat
cekap sandang pangan selamet dunya khirat
Saya dan anak cucu memohon rahmat dicukupkan sandang pangan, selamat dunia dan akhirat
فَالحَمْدُ للهِ الَّذِى كَفَّ كَفَى
صَلاَتُهُ وَسَلاَمُهُ لِلْمُصْطَفَى
وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الوَفَا
الله نريمَا عَمَلِى بِشْرِى مُصْطَفَى
Label:
Artikel Islam
Sholawat sewaktu Sholat Jum'at
Dalam kitab Tuhfatus Saniyah karangan al-Ustadz as-Syeikh Hasan Abdur Rahim Ja’far al-Anshori, percetakan Muhammad bin Ahmad Nabhan Khutbah dalam bulan Jumadits Tsani bacaan shalawatnya seperti ini:
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
Kemudian dalam kitab I’anah jilid 2 halaman 65 ada keterangan begini:
فَلاَ يَكْفِى اللهُمَّ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَارْحَمْ مُحَمَّدًا وَلاَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ (قَولُهُ وَلاَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِالضَّمِيْرِ) اى فَلاَيَكْفِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ.
1. Adakah pendapat yang mencukupkan/membolehkan bacaan shalawat dalam khutbah dengan memakai shighat sebagaimana dalam khutbah yang kami utarakan di atas?
2. Bagaimana tanggung jawab khatib yang telanjur membaca shalawat seperti di atas? Apakah wajib memberitahukan kepada semua jamaah Jumat bahwa khutbah tidak sah sehingga mereka harus mengqadla salat Jumatnya dengan salat dzuhur? Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terima kasih.
Jawaban:
1. Sepanjang pengetahuan kami tidak ada pendapat/qoul yang membolehkan bacaan shalawat dalam khutbah seperti itu. Lebih-lebih pengarang kitab I’anatut Thalibin sendiri telah menyatakan bahwa para ahli tahqiq dari fuqoha mutaakhirun telah menjelaskan ketidakcukupan membaca shalawat dalam khutbah dengan memakai isim dlomir (kata ganti); bahkan kita dilarang untuk tertipu oleh kitab-kitab khutbah yang sudah dicetak yang menulis shalawat dengan isim dlomir saja.
2. Sebenarnya seorang yang sudah berani menjadi khatib harus sudah mengetahui dengan pasti syarat dan rukun khutbah, sehingga dapat diminimalisir kekeliruan dalam menjalankan syarat dan rukun khutbah. Namun bagi khatib yang terlanjur membaca khutbah dengan shalawat seperti tersebut dalam pertanyaan, wajib memberitahukan kepada jamaah Jumat bahwa khutbahnya yang telah lalu tidak sah, sehingga salat Jumatnya juga tidak sah. Untuk itu mereka wajib melakukan I’adah (pengulangan bukan qadla’) salat dzuhur.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
Kemudian dalam kitab I’anah jilid 2 halaman 65 ada keterangan begini:
فَلاَ يَكْفِى اللهُمَّ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَارْحَمْ مُحَمَّدًا وَلاَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ (قَولُهُ وَلاَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِالضَّمِيْرِ) اى فَلاَيَكْفِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ.
1. Adakah pendapat yang mencukupkan/membolehkan bacaan shalawat dalam khutbah dengan memakai shighat sebagaimana dalam khutbah yang kami utarakan di atas?
2. Bagaimana tanggung jawab khatib yang telanjur membaca shalawat seperti di atas? Apakah wajib memberitahukan kepada semua jamaah Jumat bahwa khutbah tidak sah sehingga mereka harus mengqadla salat Jumatnya dengan salat dzuhur? Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terima kasih.
Jawaban:
1. Sepanjang pengetahuan kami tidak ada pendapat/qoul yang membolehkan bacaan shalawat dalam khutbah seperti itu. Lebih-lebih pengarang kitab I’anatut Thalibin sendiri telah menyatakan bahwa para ahli tahqiq dari fuqoha mutaakhirun telah menjelaskan ketidakcukupan membaca shalawat dalam khutbah dengan memakai isim dlomir (kata ganti); bahkan kita dilarang untuk tertipu oleh kitab-kitab khutbah yang sudah dicetak yang menulis shalawat dengan isim dlomir saja.
2. Sebenarnya seorang yang sudah berani menjadi khatib harus sudah mengetahui dengan pasti syarat dan rukun khutbah, sehingga dapat diminimalisir kekeliruan dalam menjalankan syarat dan rukun khutbah. Namun bagi khatib yang terlanjur membaca khutbah dengan shalawat seperti tersebut dalam pertanyaan, wajib memberitahukan kepada jamaah Jumat bahwa khutbahnya yang telah lalu tidak sah, sehingga salat Jumatnya juga tidak sah. Untuk itu mereka wajib melakukan I’adah (pengulangan bukan qadla’) salat dzuhur.
Label:
Artikel Islam
Langganan:
Postingan (Atom)





