Sekarang BANYAK SEKALI musibah, ketika musibah-musibah itu, plus musibah lumpur panas(sidoarjo), secara beruntun terjadi di tanah air, masih juga banyak orang yang jauh dari tempat musibah bereaksi sama. Ikut prihatin sebentar, lalu diam-diam atau terang-terangan bersyukur bahwa bukan mereka yang terkena.
Karena beruntun, setidaknya dalam dua tahun belakangan, banyak pula yang terusik dan bertanya-tanya: Ini ada apa? Ini cobaankah, peringatan, atau siksa dari Tuhan?
Memang, ada beberapa ayat suci yang jelas-jelas menyatakan bahwa musibah dan kerusakan adalah akibat ulah manusia (misalnya, Q.4: 62; 28: 47; 30: 36, 41; 42: 48). Namun, dalam menjabarkan ayat-ayat itu, berbeda-beda hujah orang. Ada yang dengan nada keminter menyalahkan pihak-pihak selain dirinya. "Alam itu memiliki karakter yang tetap," katanya; "Gunung, laut, angin, dsb sama saja tidak pernah berubah. Jadi, bisa dipelajari. Seharusnya para ilmuwan dapat memberikan masukan informasi kepada pemerintah dan masyarakat. Semestinya pemerintah sudah mengantisipasi gejala-gejala alam itu. Apa kerja Badan Meteorologi dan Geofisika itu?"
Dari mereka yang suka menyalahkan itu, ada yang lucu; menyalahkan presiden yang dianggap membawa sial dan seharusnya diruwat.
Ada pula yang agak memper, menyalahkan orang-orang yang suka merusak alam. Menurut mereka, alam marah kepada manusia yang terus-menerus melukainya. Bukan hanya manusia yang bisa kecewa, marah, demo, dan ngamuk. Alam pun bisa.
Ada yang lebih kehambaan dengan mengakui bahwa semua ini akibat dosa masal terhadap Tuhan pencipta manusia dan alam. Dosa kita semua. Jadi, tidak relevan dan sia-sia apabila hanya saling tunjuk, menganggap pihak lain saja yang berdosa, seolah-olah masing-masing merupakan wakil Tuhan.
Semua aturan Tuhan dilanggar beramai-ramai. Diangkat menjadi khalifah di kehidupan di dunia, tidak merawat dan mengelolanya secara baik, malah merusaknya. Mereka yang merasa benar tidak mau membenarkan, malah hanya menyalah-nyalahkan. Mereka yang berkesempatan berkorupsi tidak ditutup kesempatannya berkorupsi, malah dipupuk dan diberi peluang.
Hukum yang seharusnya menata malah ditata. Penegak hukum yang melencengkan hukum tidak dibantu menegakkan, malah didorong untuk terus melencengkannya. Kenakalan remaja dan kenakalan orang tua merajalela. Amuk di mana-mana.
"Karena dosa masal, untuk menghentikan hajaran Tuhan ini, tiada lain kita semua mesti melakukan tobat masal," kata sohibul pendapat itu.
Saya sependapat dengan pikiran tersebut karena saya sendiri juga melihat kenyataan perikehidupan kita yang seperti itu. Saya setuju dan mendukung anjuran tobat masal, tapi tidak dengan pengertian yang sederhana. "Hanya" ramai-ramai istighotsah secara seremonial, nangis-nangis minta ampun kepada Tuhan, lalu sudah.
Tobat yang saya dukung adalah tobat yang sesungguhnya. Masing-masing mengidentifikasi kesalahan sendiri dan menyesalinya, lalu bertekad tidak mengulangi. Mereka yang merasa pernah merampas hak orang lain segera mengembalikan atau meminta ikhlas dari pihak yang terampas. Misalnya, pejabat yang pernah mengorupsi harta rakyat, segeralah mengembalikan. Atau, jika telanjur habis termakan, mengadakan konferensi pers untuk memohon keikhlasan dari rakyat.
Mereka yang pernah atau sering nyogok atau menerima sogok, segera berhenti dan berjanji tidak akan mengulangi. Mereka yang karena memiliki kelebihan, baik berupa kekayaan, kepintaran, maupun kekuasaan, hendaklah segera menyadari bahwa itu semua adalah anugerah Tuhan yang seharusnya disyukuri, bukannya dijadikan alasan untuk angkuh serta merendahkan orang lain.
Mereka yang suka memutlakkan pendapat dan kebenaran sendiri hendaklah segera menyadari bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah dan mulai belajar menghargai pendapat orang lain. Demikian seterusnya. Kemudian, baru dengan tulus dan khusyuk memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.
Kesalahan-kesalahan yang telanjur dilakukan karena kebodohan serta kecerobohan harus diakui dan diusahakan memperbaiki dengan belajar atau menghindarinya sama sekali. Misalnya, karena pengetahuan kita mengenai bencana alam dan penanganannya masih minim, kita harus mengakui dan belajar.
Misalnya, karena nasib baik atau KKN, seseorang diangkat dan diserahi tugas yang tidak begitu dikuasainya, lalu timbul kesalahan, dia bisa memperbaiki dengan belajar. Tapi, bila tugas tersebut sama sekali di luar kemampuannya, segera saja mundur. Sebab, kesalahannya akan beranak-pinak.
Karena itu semua adalah pendekatan kehambaan, kuncinya adalah kerendahhatian. Tanpa sikap rendah hati, tobat akan sia-sia belaka.
Waba'du, meskipun wadag kita dari lumpur, tidak seharusnya kita bersikap seperti lumpur Porong yang seenaknya sendiri, merusak ke sana kemari, susah diatur, tidak jelas maunya. Sebab, dalam wadag kita, Allah meletakkan cahaya penerang: akal dan hati nurani.
Minggu, 27 April 2008
Jumat, 11 April 2008
Petuah Jawa KH. Musthofa Bisri
Kabeh puji syukur kagungane Allah
shalat salam katur maring Rasulullah
Segala puji bagi Allah shalawat dan salam terhaturkan kepada Rasulullah
Kita umat Islam wajib dha berjuang
nindaaken printah Allah maha menang
Kita umat Islam wajib berjuang mengerjakan perintah Allah yang Maha Menang
Lanang wadon aja ana kang katinggal
nuprih ridla Allah ingkang maha tunggal
Laki-laki dan perempuan jangan ada yang tertinggal memburu ridha Allah yang Maha Tunggal
Aja dumeh wis padha dha duwe partai
banjur padha ora gelem cawe-cawe
Jangan mentang-mentang sudah memiliki partai (kelompok sendiri) kemudian tidak mau berpartisipasi
Madurasah pengajian pondok langgar
ayo diperjuangake kanti sabar
Madrasah-madrasah, pengajian di pesantren atau di musholla-musholla mari diperjuangkan dengan sabar
Pengajian khusus pengajian umum
mlaku bareng keben agamane harum
Pengajian khusus dan untuk umum berjalan bersama untuk mengharumkan agama
Wong berjuang cukup makmum ring ulama
ahli sunnah wal jama’ah ingkang lunak
Orang yang berjuang, cukuplah mengikuti para ulama ahli sunnah wal jamaah yang moderat
Jamaah ing langgar rameake
lanang wadon cilik gedhe kerahake
Ramaikan shalat berjamaah di Mushola, lelaki dan perempuan, kecil maupun besar, kerahkan semua!
Shalat berjamaah iku ganjarane
tikel pitu likur –aduh cah senenge
Shalat berjamaah itu pahalanya berlipat 27, aduh senangnya
Bocah-bocah kudu mlebu madurasah
keben besok gedhe ora padha susah
Anak-anak harus sekolah, agar besar nanti tidak (hidup) susah
Syukur terus munggah menyang tsanawiyah
sakbanjure nganti tekan ing aliyah
Syukur bila bisa sampai tingkat smp kemudian sampai sma
Syukur lamun wong tuwo kersa mondokne
madurasah ngiras ngaji bandungane
Syukur bila orang tua mau memondokkan anaknya, sekolah dan mengaji
Madurasah tanpa mondok iya bisa
nanging ora kaya mondok yen dirosho
Bolehlah sekolah tanpa mondok, tetapi kenikmatannya tidak selezat mondok bila dirasa
Pondok iku langsung ngandung macem-macem
pendidikan hingga bocah ora ngalem
Pondok itu memiliki berbagai macam pola pendidikan untuk menjadikan anak mandiri
Nomer siji belajar pisah ring ibune
ring bapakne kanca kampong familine
Nomor satu, belajar berpisah dengan ibu, bapak, teman kampong dan sanak famili
Nomer loro ngumbah dhewe ngliwet dhewe
sugih melarat asor pangkat padha bae
Nomor dua, mencuci sendiri dan memasak sendiri, kaya, miskin derajatnya sama saja
Dahar sak anane gak kaya ing ndalem
sega jangan pecel terong sampun marem
Makan seadanya tidak seperti dirumah, nasi pecel terong sudah memuaskan
Ora kenal endog daging iwak banding
susu limun ager-ager lan es podeng
Tidak mengenal telur, daging, susu, limun, agar-agar atau es puding
Terang iku pendidikan kang prayoga
pemburine manfaati keluarga
Jelas hal itu merupakan pendidikan yang baik, yang memberikan manfaat kepada keluarga
Nomer telu amaliyah islamiyah
lung tinulung marang kanca ramah tamah
Nomor tiga, perilaku islamy, saling menolong kepada teman dan ramah tamah
Luwih-luwih bab jamaah musyawarah
tansah dipun gatosaken tanpa wegah
Lebih-lebih mengenai jamaah dan musyawarah selalu diperhatikan tanpa bosan
Santri pondok dateng yai demen rikuh
marang padha padha ramah ora angkuh
Santri pondok, kepada guru/Kyai tunduk patuh, kepada sesama ramah tidak angkuh
Sapa wonge pengin duwe anak pinter
alim aqil syarat telu kudu bener
Barangsiapa yang ingin memiliki anak yang pandai, alim dan berakal, maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi
Bener ditetepi aja nguciwani
insyaAllah gusti Allah ngelaksanani
Benar-benar ditepati jangan sampai ingkar, insya Allah, Allah akan mengabulkan
Nomer siji putra mempeng sinaune
wa man jadda wajada dawuh nabine
Nomor satu, anak harus giat belajar, barang siapa sungguh-sungguh akan memperoleh tujuannya, begitu sabda Nabi
Kaping pindo bapak mempeng but gawene
golek tambah rejeki kanggo sangune
Yang Kedua, bapak giat bekerja untuk menambah rizki bagi bekal anak
Mbok menawa putra pengin pinter tenan
pindah Mekah Mesir Irak aja heran
Siapa tahu, anaknya betul-betul ingin pandai, maka jangan heran bila anak pindah ke Mekkah, Mesir atau Irak
Kabeh mahu butuh tabah lan sangune
sapa maneh sing nanggung yen gak bapakne
Semua itu membutuhkan ketabahan dan biaya, siapa lagi yang akan menanggung bila bukan bapaknya
Para bapak ja kesusu golek mantu
durung-durung putra dikon gawe putu
Para bapak jangan tergesa mencari mantu, belum apa-apa anaknya disuruh memberikan cucu
_Bapak aja lemah ngeluh, kaya apa?
wong anakku wahe arep dadi apa?_
Bapak jangan lemah dan mengeluh seperti apa? Ini hanya anakku, mau jadi apa?
Nomer telu ibune kudu kang jungkung
nyuwun maring Allah ingkang maha agung
Nomor Tiga, Ibu harus selalu beribadah dan berdoa, memohon kepada Allah Yang Maha Agung
Muga-muga putrane difutuh inggal
pinaringan ilmu nafi’ lan berakal
Moga-moga putranya dibuka hatinya, cepat mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berakal
Manfaati ring agami lan negari
bangsa lan famili kabeh kakung putri
Memberikan manfaat bagi agama, negara, bangsa dan familinya laki-laki atau perempuan
Syukur ibu gelem mempeng shalat bengi
gusti Allah inggal kersaha maringi
Syukur bila Ibu mau rutin sholat malam, agar Allah segera mengabulkan
Aturane, yen jam sanga bengi turu
jam loro wungu nuli inggal wudlu
Caranya, kalau sudah jam sembilan malam segera tidur dan jam dua malam segera bangun dan mengambil air wudlu
Nuli shalat rong rakaat niyatipun
ushalli sunnatal hajat, hajatipun
Kemudian shalat malam dua rekaat, dengan niat ‘saya niat menjalankan shalat hajat’ dengan menyebut hajatnya;
Mugi-mugi anak kula inggal hasil
maksudipun ingkang sae kanti gampil
Moga-moga anak saya segera tercapai cita-citanya yang baik dengan mudah
Bapakipun mugi angsal tambah untung
ingkang kathah ingkang halal ingkang agung
Bapaknya, moga-moga mendapat keuntungan yang banyak, halal dan agung
Rakaat ula, fatihah-ayat kursi
maca khusyu’ aja eling lombok terasi
Rokaat pertama, membaca fatihah dan ayat kursi dengan khusyu’ jangan sampai terigat sambal terasi
Rakaat tsaniyah, fatihah banjure
macaha amanar rasuul sak akhire
Rokaat kedua, membaca fatihah, kemudian membaca ayat ‘aamanarrasuul.’ Sampai akhir
Rampung salam nuli maca –astaghfirullah
kaping pitung puluh taubat maring Allah
Setelah selesai sholat kemudian membaca, ‘Astaghfirullah’ 70 kali niat bertaubat kepada Allah
Nuli maca kaping satus shalawate
nuli doa cara jawa –pa hajate
Kemudian membaca Sholawat 100 kali, selanjutnya membaca doa dengan bahasa ibu, apa saja hajatnya
Apa nyuwun anak shaleh alim pinter
apa nyuwun mantu bagus gagah seger
Apakah memohon agar anaknya menjadi shalih, alim dan pandai, atau memohon menantu yang baik, gagah dan segar berseri
Apa nyuwun bisa gawe omah pantes
apa nyuwun sugih banda ingkang leres
Apakah memohon bisa membangun rumah yang pantas atau memohon kekayaan dari sumber yang benar
Apa nyuwun bisa haji ing baitullah
apa bahe nyuwuna ring gusti Allah
Apakah memohon agar bisa segera naik haji, apa saja mintalah kepada Allah
Akhiripun, ja lali nyuwun syafaat
kanjeng nabi Muhammad kang dadi rahmat
Akhirnya, jangan lupa memohon syafaat/pertolongan Nabi Muhammad yang menjadi Rahmat
Ngucapa, duh kanjeng nabi kula nyuwun
syafaat paduka nabi- pokokipun
Ucapkan; duh Nabi saya hanya memohon pertolongan Nabi!
Sageda kula wilujeng dunya khirat
keterima amal kula mboten cacat
Moga-moga bisa selamat dunia akhirat, diterima amalnya tanpa cacat
Kula miwah anak putu nyuwun rahmat
cekap sandang pangan selamet dunya khirat
Saya dan anak cucu memohon rahmat dicukupkan sandang pangan, selamat dunia dan akhirat
فَالحَمْدُ للهِ الَّذِى كَفَّ كَفَى
صَلاَتُهُ وَسَلاَمُهُ لِلْمُصْطَفَى
وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الوَفَا
الله نريمَا عَمَلِى بِشْرِى مُصْطَفَى
shalat salam katur maring Rasulullah
Segala puji bagi Allah shalawat dan salam terhaturkan kepada Rasulullah
Kita umat Islam wajib dha berjuang
nindaaken printah Allah maha menang
Kita umat Islam wajib berjuang mengerjakan perintah Allah yang Maha Menang
Lanang wadon aja ana kang katinggal
nuprih ridla Allah ingkang maha tunggal
Laki-laki dan perempuan jangan ada yang tertinggal memburu ridha Allah yang Maha Tunggal
Aja dumeh wis padha dha duwe partai
banjur padha ora gelem cawe-cawe
Jangan mentang-mentang sudah memiliki partai (kelompok sendiri) kemudian tidak mau berpartisipasi
Madurasah pengajian pondok langgar
ayo diperjuangake kanti sabar
Madrasah-madrasah, pengajian di pesantren atau di musholla-musholla mari diperjuangkan dengan sabar
Pengajian khusus pengajian umum
mlaku bareng keben agamane harum
Pengajian khusus dan untuk umum berjalan bersama untuk mengharumkan agama
Wong berjuang cukup makmum ring ulama
ahli sunnah wal jama’ah ingkang lunak
Orang yang berjuang, cukuplah mengikuti para ulama ahli sunnah wal jamaah yang moderat
Jamaah ing langgar rameake
lanang wadon cilik gedhe kerahake
Ramaikan shalat berjamaah di Mushola, lelaki dan perempuan, kecil maupun besar, kerahkan semua!
Shalat berjamaah iku ganjarane
tikel pitu likur –aduh cah senenge
Shalat berjamaah itu pahalanya berlipat 27, aduh senangnya
Bocah-bocah kudu mlebu madurasah
keben besok gedhe ora padha susah
Anak-anak harus sekolah, agar besar nanti tidak (hidup) susah
Syukur terus munggah menyang tsanawiyah
sakbanjure nganti tekan ing aliyah
Syukur bila bisa sampai tingkat smp kemudian sampai sma
Syukur lamun wong tuwo kersa mondokne
madurasah ngiras ngaji bandungane
Syukur bila orang tua mau memondokkan anaknya, sekolah dan mengaji
Madurasah tanpa mondok iya bisa
nanging ora kaya mondok yen dirosho
Bolehlah sekolah tanpa mondok, tetapi kenikmatannya tidak selezat mondok bila dirasa
Pondok iku langsung ngandung macem-macem
pendidikan hingga bocah ora ngalem
Pondok itu memiliki berbagai macam pola pendidikan untuk menjadikan anak mandiri
Nomer siji belajar pisah ring ibune
ring bapakne kanca kampong familine
Nomor satu, belajar berpisah dengan ibu, bapak, teman kampong dan sanak famili
Nomer loro ngumbah dhewe ngliwet dhewe
sugih melarat asor pangkat padha bae
Nomor dua, mencuci sendiri dan memasak sendiri, kaya, miskin derajatnya sama saja
Dahar sak anane gak kaya ing ndalem
sega jangan pecel terong sampun marem
Makan seadanya tidak seperti dirumah, nasi pecel terong sudah memuaskan
Ora kenal endog daging iwak banding
susu limun ager-ager lan es podeng
Tidak mengenal telur, daging, susu, limun, agar-agar atau es puding
Terang iku pendidikan kang prayoga
pemburine manfaati keluarga
Jelas hal itu merupakan pendidikan yang baik, yang memberikan manfaat kepada keluarga
Nomer telu amaliyah islamiyah
lung tinulung marang kanca ramah tamah
Nomor tiga, perilaku islamy, saling menolong kepada teman dan ramah tamah
Luwih-luwih bab jamaah musyawarah
tansah dipun gatosaken tanpa wegah
Lebih-lebih mengenai jamaah dan musyawarah selalu diperhatikan tanpa bosan
Santri pondok dateng yai demen rikuh
marang padha padha ramah ora angkuh
Santri pondok, kepada guru/Kyai tunduk patuh, kepada sesama ramah tidak angkuh
Sapa wonge pengin duwe anak pinter
alim aqil syarat telu kudu bener
Barangsiapa yang ingin memiliki anak yang pandai, alim dan berakal, maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi
Bener ditetepi aja nguciwani
insyaAllah gusti Allah ngelaksanani
Benar-benar ditepati jangan sampai ingkar, insya Allah, Allah akan mengabulkan
Nomer siji putra mempeng sinaune
wa man jadda wajada dawuh nabine
Nomor satu, anak harus giat belajar, barang siapa sungguh-sungguh akan memperoleh tujuannya, begitu sabda Nabi
Kaping pindo bapak mempeng but gawene
golek tambah rejeki kanggo sangune
Yang Kedua, bapak giat bekerja untuk menambah rizki bagi bekal anak
Mbok menawa putra pengin pinter tenan
pindah Mekah Mesir Irak aja heran
Siapa tahu, anaknya betul-betul ingin pandai, maka jangan heran bila anak pindah ke Mekkah, Mesir atau Irak
Kabeh mahu butuh tabah lan sangune
sapa maneh sing nanggung yen gak bapakne
Semua itu membutuhkan ketabahan dan biaya, siapa lagi yang akan menanggung bila bukan bapaknya
Para bapak ja kesusu golek mantu
durung-durung putra dikon gawe putu
Para bapak jangan tergesa mencari mantu, belum apa-apa anaknya disuruh memberikan cucu
_Bapak aja lemah ngeluh, kaya apa?
wong anakku wahe arep dadi apa?_
Bapak jangan lemah dan mengeluh seperti apa? Ini hanya anakku, mau jadi apa?
Nomer telu ibune kudu kang jungkung
nyuwun maring Allah ingkang maha agung
Nomor Tiga, Ibu harus selalu beribadah dan berdoa, memohon kepada Allah Yang Maha Agung
Muga-muga putrane difutuh inggal
pinaringan ilmu nafi’ lan berakal
Moga-moga putranya dibuka hatinya, cepat mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berakal
Manfaati ring agami lan negari
bangsa lan famili kabeh kakung putri
Memberikan manfaat bagi agama, negara, bangsa dan familinya laki-laki atau perempuan
Syukur ibu gelem mempeng shalat bengi
gusti Allah inggal kersaha maringi
Syukur bila Ibu mau rutin sholat malam, agar Allah segera mengabulkan
Aturane, yen jam sanga bengi turu
jam loro wungu nuli inggal wudlu
Caranya, kalau sudah jam sembilan malam segera tidur dan jam dua malam segera bangun dan mengambil air wudlu
Nuli shalat rong rakaat niyatipun
ushalli sunnatal hajat, hajatipun
Kemudian shalat malam dua rekaat, dengan niat ‘saya niat menjalankan shalat hajat’ dengan menyebut hajatnya;
Mugi-mugi anak kula inggal hasil
maksudipun ingkang sae kanti gampil
Moga-moga anak saya segera tercapai cita-citanya yang baik dengan mudah
Bapakipun mugi angsal tambah untung
ingkang kathah ingkang halal ingkang agung
Bapaknya, moga-moga mendapat keuntungan yang banyak, halal dan agung
Rakaat ula, fatihah-ayat kursi
maca khusyu’ aja eling lombok terasi
Rokaat pertama, membaca fatihah dan ayat kursi dengan khusyu’ jangan sampai terigat sambal terasi
Rakaat tsaniyah, fatihah banjure
macaha amanar rasuul sak akhire
Rokaat kedua, membaca fatihah, kemudian membaca ayat ‘aamanarrasuul.’ Sampai akhir
Rampung salam nuli maca –astaghfirullah
kaping pitung puluh taubat maring Allah
Setelah selesai sholat kemudian membaca, ‘Astaghfirullah’ 70 kali niat bertaubat kepada Allah
Nuli maca kaping satus shalawate
nuli doa cara jawa –pa hajate
Kemudian membaca Sholawat 100 kali, selanjutnya membaca doa dengan bahasa ibu, apa saja hajatnya
Apa nyuwun anak shaleh alim pinter
apa nyuwun mantu bagus gagah seger
Apakah memohon agar anaknya menjadi shalih, alim dan pandai, atau memohon menantu yang baik, gagah dan segar berseri
Apa nyuwun bisa gawe omah pantes
apa nyuwun sugih banda ingkang leres
Apakah memohon bisa membangun rumah yang pantas atau memohon kekayaan dari sumber yang benar
Apa nyuwun bisa haji ing baitullah
apa bahe nyuwuna ring gusti Allah
Apakah memohon agar bisa segera naik haji, apa saja mintalah kepada Allah
Akhiripun, ja lali nyuwun syafaat
kanjeng nabi Muhammad kang dadi rahmat
Akhirnya, jangan lupa memohon syafaat/pertolongan Nabi Muhammad yang menjadi Rahmat
Ngucapa, duh kanjeng nabi kula nyuwun
syafaat paduka nabi- pokokipun
Ucapkan; duh Nabi saya hanya memohon pertolongan Nabi!
Sageda kula wilujeng dunya khirat
keterima amal kula mboten cacat
Moga-moga bisa selamat dunia akhirat, diterima amalnya tanpa cacat
Kula miwah anak putu nyuwun rahmat
cekap sandang pangan selamet dunya khirat
Saya dan anak cucu memohon rahmat dicukupkan sandang pangan, selamat dunia dan akhirat
فَالحَمْدُ للهِ الَّذِى كَفَّ كَفَى
صَلاَتُهُ وَسَلاَمُهُ لِلْمُصْطَفَى
وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الوَفَا
الله نريمَا عَمَلِى بِشْرِى مُصْطَفَى
Label:
Artikel Islam
Sholawat sewaktu Sholat Jum'at
Dalam kitab Tuhfatus Saniyah karangan al-Ustadz as-Syeikh Hasan Abdur Rahim Ja’far al-Anshori, percetakan Muhammad bin Ahmad Nabhan Khutbah dalam bulan Jumadits Tsani bacaan shalawatnya seperti ini:
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
Kemudian dalam kitab I’anah jilid 2 halaman 65 ada keterangan begini:
فَلاَ يَكْفِى اللهُمَّ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَارْحَمْ مُحَمَّدًا وَلاَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ (قَولُهُ وَلاَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِالضَّمِيْرِ) اى فَلاَيَكْفِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ.
1. Adakah pendapat yang mencukupkan/membolehkan bacaan shalawat dalam khutbah dengan memakai shighat sebagaimana dalam khutbah yang kami utarakan di atas?
2. Bagaimana tanggung jawab khatib yang telanjur membaca shalawat seperti di atas? Apakah wajib memberitahukan kepada semua jamaah Jumat bahwa khutbah tidak sah sehingga mereka harus mengqadla salat Jumatnya dengan salat dzuhur? Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terima kasih.
Jawaban:
1. Sepanjang pengetahuan kami tidak ada pendapat/qoul yang membolehkan bacaan shalawat dalam khutbah seperti itu. Lebih-lebih pengarang kitab I’anatut Thalibin sendiri telah menyatakan bahwa para ahli tahqiq dari fuqoha mutaakhirun telah menjelaskan ketidakcukupan membaca shalawat dalam khutbah dengan memakai isim dlomir (kata ganti); bahkan kita dilarang untuk tertipu oleh kitab-kitab khutbah yang sudah dicetak yang menulis shalawat dengan isim dlomir saja.
2. Sebenarnya seorang yang sudah berani menjadi khatib harus sudah mengetahui dengan pasti syarat dan rukun khutbah, sehingga dapat diminimalisir kekeliruan dalam menjalankan syarat dan rukun khutbah. Namun bagi khatib yang terlanjur membaca khutbah dengan shalawat seperti tersebut dalam pertanyaan, wajib memberitahukan kepada jamaah Jumat bahwa khutbahnya yang telah lalu tidak sah, sehingga salat Jumatnya juga tidak sah. Untuk itu mereka wajib melakukan I’adah (pengulangan bukan qadla’) salat dzuhur.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
Kemudian dalam kitab I’anah jilid 2 halaman 65 ada keterangan begini:
فَلاَ يَكْفِى اللهُمَّ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَارْحَمْ مُحَمَّدًا وَلاَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ (قَولُهُ وَلاَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِالضَّمِيْرِ) اى فَلاَيَكْفِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ.
1. Adakah pendapat yang mencukupkan/membolehkan bacaan shalawat dalam khutbah dengan memakai shighat sebagaimana dalam khutbah yang kami utarakan di atas?
2. Bagaimana tanggung jawab khatib yang telanjur membaca shalawat seperti di atas? Apakah wajib memberitahukan kepada semua jamaah Jumat bahwa khutbah tidak sah sehingga mereka harus mengqadla salat Jumatnya dengan salat dzuhur? Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terima kasih.
Jawaban:
1. Sepanjang pengetahuan kami tidak ada pendapat/qoul yang membolehkan bacaan shalawat dalam khutbah seperti itu. Lebih-lebih pengarang kitab I’anatut Thalibin sendiri telah menyatakan bahwa para ahli tahqiq dari fuqoha mutaakhirun telah menjelaskan ketidakcukupan membaca shalawat dalam khutbah dengan memakai isim dlomir (kata ganti); bahkan kita dilarang untuk tertipu oleh kitab-kitab khutbah yang sudah dicetak yang menulis shalawat dengan isim dlomir saja.
2. Sebenarnya seorang yang sudah berani menjadi khatib harus sudah mengetahui dengan pasti syarat dan rukun khutbah, sehingga dapat diminimalisir kekeliruan dalam menjalankan syarat dan rukun khutbah. Namun bagi khatib yang terlanjur membaca khutbah dengan shalawat seperti tersebut dalam pertanyaan, wajib memberitahukan kepada jamaah Jumat bahwa khutbahnya yang telah lalu tidak sah, sehingga salat Jumatnya juga tidak sah. Untuk itu mereka wajib melakukan I’adah (pengulangan bukan qadla’) salat dzuhur.
Label:
Artikel Islam
Tanya Jawab Tahlil dan Haul
Sebagai orang yang semenjak kecil hidup dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, saya sudah terbiasa mengikuti kegiatan ala NU. Salah satunya adalah kegiatan tahlil yang mana kegiatan ini diselenggarakan sebagai wasilah untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia.
Rangkaian bacaan tahlil ini sangat bagus sekali, sebab yang dibaca adalah kalimah-kalimah thoyibah dan ayat-ayat suci al-Quran. Hanya saja dalam teknis pelaksanaanya biasanya di desa-desa pada hari-hari tertentu. Sebagai contoh: umpamanya ada orang meninggal dunia kemudian dibacakan tahlil sampai tujuh hari terus disusul hari keempat puluh dan terakhir mendak pindho (nglepas) setelah waktu dua tahun.
Yang ingin saya tanyakan:
1. Apakah hal tersebut memang ada dasar hukumnya dari agama Islam (al Quran-Hadist). Karena ada yang berkomentar bahwa itu adalah merupakan sinkretisme antara ajaran Islam dan non-Islam.
2. Bagaimanakah hukumnya bertawasul dalam berdoa dengan orang-orang yang telah wafat yang notabenenya mereka kita yakini shalih.
Jawaban:
1. Dasar hukum yang menerangkan bahwa pahala dari bacaan yang dilakukan oleh keluarga mayit atau orang lain itu dapat sampai kepada si mayit yang dikirimi pahala dari bacaan tersebut adalah banyak sekali. Antara lain hadist yang dikemukakan oleh Dr. Ahmad as-Syarbashi, guru besar pada Universitas al-Azhar, dalam kitabnya, Yas aluunaka fid Diini wal Hayaah juz 1 halaman 442, sebagai berikut:
وَقَدِ اسْتَدَلَّ الفُقَهَاءُ عَلَى هَذَا بِأَنَّ أَحَدَ الصَّحَابَةِ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَقَالَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا نَتَصَدَّقُ عَنْ مَوتَانَا وَنُحَجُّ عَنْهُمْ وَنَدعُو لَهُمْ هَلْْ يَصِلُ ذَلِكَ إِلَيْهِمْ؟ قَالَ: نَعَمْ إِنَّهُ لَيَصِلُ إِلَيْهِمْ وَإِنَّهُمْ لَيَفْرَحُوْنَ بِهِ كَمَا يَفْرَحُ اَحَدُكُمء بِالطَّبَقِ إِذَا أُهْدِيَ إِلَيْهِ!
Sungguh para ahli fiqh telah mengambil dalil atas kiriman pahala ibadah itu dapat sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia, dengan hadist bahwa sesungguhnya ada salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami bersedekah untuk keluarga kami yang sudah mati, kami melakukan haji untuk mereka dan kami berdoa bagi mereka; apakah hal tersebut pahalanya dapat sampai kepada mereka? Rasulullah bersabda: Ya! Sungguh pahala dari ibadah itu benar-benar akan sampai kepada mereka dan sesungguhnya mereka itu benar-benar bergembira dengan kiriman pahala tersebut, sebagaimana salah seorang dari kamu sekalian bergembira dengan hadiah apabila hadiah tersebut dikirimkan kepadanya!
Hanya saja dalam kitab Fatawa al-Kubra juz 2 halaman 7 diterangkan bahwa menempatkan selamatan mayat para hari ke-3 dan seterusnya, hukumnya adalah bid’ah yang makruh. Kecuali jika selamatan tersebut dilakukan dengan memaksakan diri (takalluf) sampai berhutang atau mempergunakan harta warisan anak yatim atau lainnya yang dilarang agama, maka hukumnya haram.
Adapun orang yang memberi komentar bahwa hal tersebut adalah sinkretisme antara ajaran agama Islam dengan non-Islam, maka sebenarnya orang tersebut tidak memahami sistem dakwah yang dilakukkan oleh Rasulullah saw, yang hanya memberikan bimbingan dan pengarahan terhadap kebudayaan dari bangsa-bangsa yang memeluk agama Islam yang bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam. Sehingga tidak lagi bertentangan dengan pokok-pokok ajaran agama Islam. Sehingga karenanya, maka komentar tersebut tidak perlu diperhatikan.
2. Hukumnya boleh, sebab mukjizat dari para nabi, karomah dari para wali dan maunah dari para ulama shaleh itu tidak terputus dengan kematian mereka. Dalam kitab Syawahidul Haq, karangan Syeikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhani, cetakan Dinamika Berkah Utama Jakarta, tanpa tahun, halaman 118 disebutkan sebagai berikut:
وَيَجُوزُ التَّوَسُّلُ بِهِمْ إلَى اللهِ تَعَالَى ، وَالإِسْتِغَاثَةُ بِالأنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ بَعْدَ مَوتِهِمْ لأَنَّ مُعْجِزَةَ الأَنْبِيَاءِ وَكَرَمَاتِ الأَولِيَاءِ لاَتَنْقَطِعُ بِالمَوتِ.
Boleh bertawassul dengan mereka (para nabi dan wali) untuk memohon kepada Allah taala dan boleh meminta pertolongan dengan perantara para Nabi, Rasul, para ulama dan orang-orang yang shalih setelah mereka wafat, karena mukjizat para Nabi dan karomah para wali itu tidaklah terputus sebab kematian.
Rangkaian bacaan tahlil ini sangat bagus sekali, sebab yang dibaca adalah kalimah-kalimah thoyibah dan ayat-ayat suci al-Quran. Hanya saja dalam teknis pelaksanaanya biasanya di desa-desa pada hari-hari tertentu. Sebagai contoh: umpamanya ada orang meninggal dunia kemudian dibacakan tahlil sampai tujuh hari terus disusul hari keempat puluh dan terakhir mendak pindho (nglepas) setelah waktu dua tahun.
Yang ingin saya tanyakan:
1. Apakah hal tersebut memang ada dasar hukumnya dari agama Islam (al Quran-Hadist). Karena ada yang berkomentar bahwa itu adalah merupakan sinkretisme antara ajaran Islam dan non-Islam.
2. Bagaimanakah hukumnya bertawasul dalam berdoa dengan orang-orang yang telah wafat yang notabenenya mereka kita yakini shalih.
Jawaban:
1. Dasar hukum yang menerangkan bahwa pahala dari bacaan yang dilakukan oleh keluarga mayit atau orang lain itu dapat sampai kepada si mayit yang dikirimi pahala dari bacaan tersebut adalah banyak sekali. Antara lain hadist yang dikemukakan oleh Dr. Ahmad as-Syarbashi, guru besar pada Universitas al-Azhar, dalam kitabnya, Yas aluunaka fid Diini wal Hayaah juz 1 halaman 442, sebagai berikut:
وَقَدِ اسْتَدَلَّ الفُقَهَاءُ عَلَى هَذَا بِأَنَّ أَحَدَ الصَّحَابَةِ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَقَالَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا نَتَصَدَّقُ عَنْ مَوتَانَا وَنُحَجُّ عَنْهُمْ وَنَدعُو لَهُمْ هَلْْ يَصِلُ ذَلِكَ إِلَيْهِمْ؟ قَالَ: نَعَمْ إِنَّهُ لَيَصِلُ إِلَيْهِمْ وَإِنَّهُمْ لَيَفْرَحُوْنَ بِهِ كَمَا يَفْرَحُ اَحَدُكُمء بِالطَّبَقِ إِذَا أُهْدِيَ إِلَيْهِ!
Sungguh para ahli fiqh telah mengambil dalil atas kiriman pahala ibadah itu dapat sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia, dengan hadist bahwa sesungguhnya ada salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami bersedekah untuk keluarga kami yang sudah mati, kami melakukan haji untuk mereka dan kami berdoa bagi mereka; apakah hal tersebut pahalanya dapat sampai kepada mereka? Rasulullah bersabda: Ya! Sungguh pahala dari ibadah itu benar-benar akan sampai kepada mereka dan sesungguhnya mereka itu benar-benar bergembira dengan kiriman pahala tersebut, sebagaimana salah seorang dari kamu sekalian bergembira dengan hadiah apabila hadiah tersebut dikirimkan kepadanya!
Hanya saja dalam kitab Fatawa al-Kubra juz 2 halaman 7 diterangkan bahwa menempatkan selamatan mayat para hari ke-3 dan seterusnya, hukumnya adalah bid’ah yang makruh. Kecuali jika selamatan tersebut dilakukan dengan memaksakan diri (takalluf) sampai berhutang atau mempergunakan harta warisan anak yatim atau lainnya yang dilarang agama, maka hukumnya haram.
Adapun orang yang memberi komentar bahwa hal tersebut adalah sinkretisme antara ajaran agama Islam dengan non-Islam, maka sebenarnya orang tersebut tidak memahami sistem dakwah yang dilakukkan oleh Rasulullah saw, yang hanya memberikan bimbingan dan pengarahan terhadap kebudayaan dari bangsa-bangsa yang memeluk agama Islam yang bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam. Sehingga tidak lagi bertentangan dengan pokok-pokok ajaran agama Islam. Sehingga karenanya, maka komentar tersebut tidak perlu diperhatikan.
2. Hukumnya boleh, sebab mukjizat dari para nabi, karomah dari para wali dan maunah dari para ulama shaleh itu tidak terputus dengan kematian mereka. Dalam kitab Syawahidul Haq, karangan Syeikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhani, cetakan Dinamika Berkah Utama Jakarta, tanpa tahun, halaman 118 disebutkan sebagai berikut:
وَيَجُوزُ التَّوَسُّلُ بِهِمْ إلَى اللهِ تَعَالَى ، وَالإِسْتِغَاثَةُ بِالأنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ بَعْدَ مَوتِهِمْ لأَنَّ مُعْجِزَةَ الأَنْبِيَاءِ وَكَرَمَاتِ الأَولِيَاءِ لاَتَنْقَطِعُ بِالمَوتِ.
Boleh bertawassul dengan mereka (para nabi dan wali) untuk memohon kepada Allah taala dan boleh meminta pertolongan dengan perantara para Nabi, Rasul, para ulama dan orang-orang yang shalih setelah mereka wafat, karena mukjizat para Nabi dan karomah para wali itu tidaklah terputus sebab kematian.
Label:
Hikmah Islam
Jumat, 14 Maret 2008
Duduk Dengan Orang Alim
Majelis Ilmu Habib Anis
Benar yang di sabdakan Nabi Muhammad SAW :
;Barang siapa duduk dengan seorang yang alim
maka dia telah duduk denganku, siapa yang duduk denganku di dunia akan duduk denganku di akhirat.”. Ucapan
Rasulullah SAW diatas seakan-akan terasa hadirnya Rasulullah SAW di kala beliau menghadiri Majlis Nurul Musthofa.
Diwaktu kehadiran beliau Ra, beliau membahas ucapan kakek beliau Al Habib Ali Bin Muhammad Bin Husein Al Habsyi,
diantaranya : “Beruntunglah orang yang melihat orang-orang sholeh sampai hari kiamat”.
Diantara pembahasan beliau tentang orang sholeh yaitu :
- Agar kita semua mencontoh ahlak-ahlak mereka, Karena dengan ahlak orang tersebut bisa menjadi orang yang sholeh
dan selamat dari jurang api neraka.
- Syukur nikmat, dengan bersyukur dari nikmat Allah SWT salah satu cara manusia mengenal Allah SWT dari yang kecil
maupun yang besar, dari yang susah maupun yang senang, semua itu adalah karunia dari Allah SWT yang patut kita
syukuri.
- Istiqomah, dengan istiqomah kita akan mengetahui dimana kekurangan dan kelebihan kita. Apakah kita tambah jauh
kepada Allah SWT ataukah bertambah dekat dengan Allah SWT.
- Yang terakhir adalah karunia dari Allah SWT. Beliau mengungkapkan bahwasanya Majlis Nurul Musthofa ini adalah
karunia yang besar dari Allah SWT yang harus dijaga oleh setiap mukminin dan mukminat. Karena Majlis ini di
gemuruhkan sholawat di atas kekasih Allah SWT. Maka wajib setiap ahli Majlis mengikuti langkah-langkah Rasulullah
SAW, karena dengan mengikuti Rasulullah SAW hidup akan selamat di dunia dan di akhirat dan bahagia selama-
lamanya.
Nasehat beliau ditutup dengan pembacaan do’a Maulid Simtuddurror dan Talkin Dzikir, ini adalah kenang-
kenangan yang harus kita amalkan dan kita harus pegang, karena Nabi Muhammad SAW bersabda : “Seseorang
bersama orang yang di cintainya.”
Selamat jalan wahai penuntun kebenaran, penerang kegelapan. Semoga kami semua bersama-sama di hari kiamat di
belakang Nabi Muhammad SAW.
Benar yang di sabdakan Nabi Muhammad SAW :
;Barang siapa duduk dengan seorang yang alim
maka dia telah duduk denganku, siapa yang duduk denganku di dunia akan duduk denganku di akhirat.”. Ucapan
Rasulullah SAW diatas seakan-akan terasa hadirnya Rasulullah SAW di kala beliau menghadiri Majlis Nurul Musthofa.
Diwaktu kehadiran beliau Ra, beliau membahas ucapan kakek beliau Al Habib Ali Bin Muhammad Bin Husein Al Habsyi,
diantaranya : “Beruntunglah orang yang melihat orang-orang sholeh sampai hari kiamat”.
Diantara pembahasan beliau tentang orang sholeh yaitu :
- Agar kita semua mencontoh ahlak-ahlak mereka, Karena dengan ahlak orang tersebut bisa menjadi orang yang sholeh
dan selamat dari jurang api neraka.
- Syukur nikmat, dengan bersyukur dari nikmat Allah SWT salah satu cara manusia mengenal Allah SWT dari yang kecil
maupun yang besar, dari yang susah maupun yang senang, semua itu adalah karunia dari Allah SWT yang patut kita
syukuri.
- Istiqomah, dengan istiqomah kita akan mengetahui dimana kekurangan dan kelebihan kita. Apakah kita tambah jauh
kepada Allah SWT ataukah bertambah dekat dengan Allah SWT.
- Yang terakhir adalah karunia dari Allah SWT. Beliau mengungkapkan bahwasanya Majlis Nurul Musthofa ini adalah
karunia yang besar dari Allah SWT yang harus dijaga oleh setiap mukminin dan mukminat. Karena Majlis ini di
gemuruhkan sholawat di atas kekasih Allah SWT. Maka wajib setiap ahli Majlis mengikuti langkah-langkah Rasulullah
SAW, karena dengan mengikuti Rasulullah SAW hidup akan selamat di dunia dan di akhirat dan bahagia selama-
lamanya.
Nasehat beliau ditutup dengan pembacaan do’a Maulid Simtuddurror dan Talkin Dzikir, ini adalah kenang-
kenangan yang harus kita amalkan dan kita harus pegang, karena Nabi Muhammad SAW bersabda : “Seseorang
bersama orang yang di cintainya.”
Selamat jalan wahai penuntun kebenaran, penerang kegelapan. Semoga kami semua bersama-sama di hari kiamat di
belakang Nabi Muhammad SAW.
Label:
Hikmah Islam
Selasa, 11 Maret 2008
Membaca Shalawat untuk Nabi
Membaca shalawat adalah salah satu amalan yang disenangi orang-orang NU, disamping amalan-amalan lain semacam itu. Ada shalawat “Nariyah”, ada “Thibbi Qulub”. Ada shalawat “Tunjina”, dan masih banyak lagi. Belum lagi bacaan “hizib” dan “rawatib” yang tak terhitung banyaknya. Semua itu mendorong semangat keagamaan dan cita-cita kepada Rasulullah sekaligus ibadah.
Salah satu hadits yang membuat kita rajin membaca shalawat ialah: Rasulullah bersabda: Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya. Makanya, bagi orang-orang NU, setiap kegiatan keagamaan bisa disisipi bacaan shalawat dengan segala ragamnya.
Salah satu shalawat yang sangat popular ialah “Shalawat Badar”. Hampir setiap warga NU, dari anak kecil sampai kakek dan nenek, dapat dipastikan melantunkan shalawat Badar. Bahkan saking populernya, orang bukan NU pun ikut hafal karena pagi, siang, malam, acara dimana dan kapan saja “Shalawat Badar” selalu dilantunkan bersama-sama.
Shalawat yang satu ini, “shalawat Nariyah”, tidak kalah populernya di kalangan warga NU. Khususnya bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan persoalan pelik itu kepada Allah. Dan shalawat Nariyah adalah salah satu jalan mengadu kepada-Nya.
Salah satu shalawat lain yang mustajab ialah shalawat Tafrijiyah Qurtubiyah, yang disebut orang Maroko shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak apa yang tidak disuka, mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat bi idznillah. Shalawat ini juga oleh para ahli yang tahu rahasia alam.
Imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (fardlu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rejekinya tidak akan putus, disamping mendapatkan pangkat/kedudukan dan tingkatan orang kaya. (Khaziyat al-Asrar, hlm 179)
Simak sabda Rasulullah SAW berikut ini:
وَأخْرَجَ ابْنُ مُنْذَة عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنهُ أنّهُ قال قال َرسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: مَنْ صَلّى عَلَيَّ كُلّ يَوْمٍ مِئَة مَرّةٍ – وَفِيْ رِوَايَةٍ – مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي اليَوْمِ مِئَة مَرّةٍ قَضَى اللهُ لَهُ مِئَة حَجَّةٍ – سَبْعِيْنَ مِنْهَا في الأخِرَةِ وَثَلاثِيْنَ فِي الدُّنْيَا – إلى أنْ قال – وَرُوِيَ أن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عليه وسلم قال : اكْثَرُوا مِنَ الصَّلاةِ عَلَيَّ فَإنّهَا تَحِلُّ اْلعَقْدَ وَتَفْرجُ الكُرَبَ – كَذَا فِيْ النزهَةِ
Hadits Ibnu Mundah dari Jabir, ia mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia. Sampai kata-kata … dan hadits Rasulullah yang mengatakan: Perbanyaklah shalawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah.
Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal-amal kalian disampaikan kepadaku; jika saya tahu amal itu baik, aku memuji Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. (Hadits riwayat Al-hafizh Ismail Al-Qadhi, dalam bab shalawat ‘ala an-Nabi).
Imam Haitami dalam kitab Majma’ az-Zawaid meyakini bahwa hadits di atas adalah shahih. Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya (istighfar) di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa Rasul untuk umatnya pasti bermanfaat.
Ada lagi hadits lain. Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih)
KH Munawwir Abdul Fattah
Pengasuh Pesantren Krapyak, Yogyakarta
Salah satu hadits yang membuat kita rajin membaca shalawat ialah: Rasulullah bersabda: Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya. Makanya, bagi orang-orang NU, setiap kegiatan keagamaan bisa disisipi bacaan shalawat dengan segala ragamnya.
Salah satu shalawat yang sangat popular ialah “Shalawat Badar”. Hampir setiap warga NU, dari anak kecil sampai kakek dan nenek, dapat dipastikan melantunkan shalawat Badar. Bahkan saking populernya, orang bukan NU pun ikut hafal karena pagi, siang, malam, acara dimana dan kapan saja “Shalawat Badar” selalu dilantunkan bersama-sama.
Shalawat yang satu ini, “shalawat Nariyah”, tidak kalah populernya di kalangan warga NU. Khususnya bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan persoalan pelik itu kepada Allah. Dan shalawat Nariyah adalah salah satu jalan mengadu kepada-Nya.
Salah satu shalawat lain yang mustajab ialah shalawat Tafrijiyah Qurtubiyah, yang disebut orang Maroko shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak apa yang tidak disuka, mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat bi idznillah. Shalawat ini juga oleh para ahli yang tahu rahasia alam.
Imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (fardlu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rejekinya tidak akan putus, disamping mendapatkan pangkat/kedudukan dan tingkatan orang kaya. (Khaziyat al-Asrar, hlm 179)
Simak sabda Rasulullah SAW berikut ini:
وَأخْرَجَ ابْنُ مُنْذَة عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنهُ أنّهُ قال قال َرسُوْلُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: مَنْ صَلّى عَلَيَّ كُلّ يَوْمٍ مِئَة مَرّةٍ – وَفِيْ رِوَايَةٍ – مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي اليَوْمِ مِئَة مَرّةٍ قَضَى اللهُ لَهُ مِئَة حَجَّةٍ – سَبْعِيْنَ مِنْهَا في الأخِرَةِ وَثَلاثِيْنَ فِي الدُّنْيَا – إلى أنْ قال – وَرُوِيَ أن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عليه وسلم قال : اكْثَرُوا مِنَ الصَّلاةِ عَلَيَّ فَإنّهَا تَحِلُّ اْلعَقْدَ وَتَفْرجُ الكُرَبَ – كَذَا فِيْ النزهَةِ
Hadits Ibnu Mundah dari Jabir, ia mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia. Sampai kata-kata … dan hadits Rasulullah yang mengatakan: Perbanyaklah shalawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah.
Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal-amal kalian disampaikan kepadaku; jika saya tahu amal itu baik, aku memuji Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. (Hadits riwayat Al-hafizh Ismail Al-Qadhi, dalam bab shalawat ‘ala an-Nabi).
Imam Haitami dalam kitab Majma’ az-Zawaid meyakini bahwa hadits di atas adalah shahih. Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya (istighfar) di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa Rasul untuk umatnya pasti bermanfaat.
Ada lagi hadits lain. Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih)
KH Munawwir Abdul Fattah
Pengasuh Pesantren Krapyak, Yogyakarta
Label:
Fikih Islam
Merayakan Maulid Nabi SAW
Memang Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya. Kita belum pernah menjumpai suatu hadits/nash yang menerangkan bahwa pada setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal (sebagian ahli sejarah mengatakan 9 Rabiul Awwal), Rasulullah SAW mengadakan upacara peringatan hari kelahirannya. Bahkan ketika beliau sudah wafat, kita belum pernah mendapati para shahabat r.a. melakukannya. Tidak juga para tabi`in dan tabi`it tabi`in.
Menurut Imam As-Suyuthi, tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw ini dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (l. 549 H. - w.630 H.). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan syi’ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW.
Di antara karya yang paling terkenal adalah karya Syeikh Al-Barzanji yang menampilkan riwayat kelahiran Nabi SAW dalam bentuk natsar (prosa) dan nazham (puisi). Saking populernya, sehingga karya seni Barzanji ini hingga hari ini masih sering kita dengar dibacakan dalam seremoni peringatan maulid Nabi SAW.
Maka sejak itu ada tradisi memperingati hari kelahiran Nabi SAW di banyak negeri Islam. Inti acaranya sebenarnya lebih kepada pembacaan sajak dan syi`ir peristiwa kelahiran Rasulullah SAW untuk menghidupkan semangat juang dan persatuan umat Islam dalam menghadapi gempuran musuh. Lalu bentuk acaranya semakin berkembang dan bervariasi.
Di Indonesia, terutama di pesantren, para kyai dulunya hanya membacakan syi’ir dan sajak-sajak itu, tanpa diisi dengan ceramah. Namun kemudian ada muncul ide untuk memanfaatkan momentum tradisi maulid Nabi SAW yang sudah melekat di masyarakat ini sebagai media dakwah dan pengajaran Islam. Akhirnya ceramah maulid menjadi salah satu inti acara yang harus ada, demikian juga atraksi murid pesantren. Bahkan sebagian organisasi Islam telah mencoba memanfaatkan momentum itu tidak sebatas seremoni dan haflah belaka, tetapi juga untuk melakukan amal-amal kebajikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk Islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat.
Kembali kepada hukum merayakan maulid Nabi SAW, apakah termasuk bid`ah atau bukan?
Memang secara umum para ulama salaf menganggap perbuatan ini termasuk bid`ah. Karena tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah saw dan tidak pernah dicontohkan oleh para shahabat seperti perayaan tetapi termasuk bid’ah hasanah (sesuatu yang baik), Seperti Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setia hari Senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.
عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ” : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم
“Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (H.R. Muslim)
Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’ ” (QS.Yunus:58).
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Hal itu dikarenakan bahwa saat Rasulullah saw lahir, dia sangat gembira menyambut kelahirannya sampai-sampai dia merasa perlu membebaskan (memerdekakan) budaknya yang bernama Tsuwaibatuh Al-Aslamiyah.
Jika Abu Lahab yang non-muslim dan Al-Qur’an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW?
HM Cholil Nafis MA
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PBNU
Menurut Imam As-Suyuthi, tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw ini dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (l. 549 H. - w.630 H.). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan syi’ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW.
Di antara karya yang paling terkenal adalah karya Syeikh Al-Barzanji yang menampilkan riwayat kelahiran Nabi SAW dalam bentuk natsar (prosa) dan nazham (puisi). Saking populernya, sehingga karya seni Barzanji ini hingga hari ini masih sering kita dengar dibacakan dalam seremoni peringatan maulid Nabi SAW.
Maka sejak itu ada tradisi memperingati hari kelahiran Nabi SAW di banyak negeri Islam. Inti acaranya sebenarnya lebih kepada pembacaan sajak dan syi`ir peristiwa kelahiran Rasulullah SAW untuk menghidupkan semangat juang dan persatuan umat Islam dalam menghadapi gempuran musuh. Lalu bentuk acaranya semakin berkembang dan bervariasi.
Di Indonesia, terutama di pesantren, para kyai dulunya hanya membacakan syi’ir dan sajak-sajak itu, tanpa diisi dengan ceramah. Namun kemudian ada muncul ide untuk memanfaatkan momentum tradisi maulid Nabi SAW yang sudah melekat di masyarakat ini sebagai media dakwah dan pengajaran Islam. Akhirnya ceramah maulid menjadi salah satu inti acara yang harus ada, demikian juga atraksi murid pesantren. Bahkan sebagian organisasi Islam telah mencoba memanfaatkan momentum itu tidak sebatas seremoni dan haflah belaka, tetapi juga untuk melakukan amal-amal kebajikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk Islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat.
Kembali kepada hukum merayakan maulid Nabi SAW, apakah termasuk bid`ah atau bukan?
Memang secara umum para ulama salaf menganggap perbuatan ini termasuk bid`ah. Karena tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah saw dan tidak pernah dicontohkan oleh para shahabat seperti perayaan tetapi termasuk bid’ah hasanah (sesuatu yang baik), Seperti Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setia hari Senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.
عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ” : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم
“Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (H.R. Muslim)
Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’ ” (QS.Yunus:58).
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Hal itu dikarenakan bahwa saat Rasulullah saw lahir, dia sangat gembira menyambut kelahirannya sampai-sampai dia merasa perlu membebaskan (memerdekakan) budaknya yang bernama Tsuwaibatuh Al-Aslamiyah.
Jika Abu Lahab yang non-muslim dan Al-Qur’an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW?
HM Cholil Nafis MA
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PBNU
Label:
Artikel Islam
Langganan:
Postingan (Atom)





